PULAU BIRU
1
Aku terlahir di saat bulan purnama sedang terang-terangnya. Malam hari yang benderang. Anak-anak bersuka cita bermain di bawah cahaya bulan.Ayahku perantau berasal dari Suku Gunung di Pulau Besar. Sedangkan ibuku wanita Suku Laut dari Pulau Kecil. Mereka bertemu di pulau indah yang dihuni Suku Karang Entah bagaimana kronolis pertemuan mereka sampai akhirnya menikah dan terlahirlah aku. Jodoh memang selalu menjadi misteri bagi umat manusia. Siapa yang bisa menebaknya ?
Pulau indah itu bernama Pulau Karang. Suku Karang menjadi penghuni asli disitu. Ayah-Ibuku sama- sama pendatang. Karena memang kota utama di pulau itu adalah sebuah kota pelabuhan yang sangat ramai. Para perantau entah pendagang ataupun buruh lepas harian dari segala penjuru mata angin negeri ini datang untuk mengadu nasib. Ada yang singgah sebentar, bertahan lama, ada juga yang tak kuat lalu kembali ke daerah asal atau berpindah mencari kota lain. Daya tahan setiap orang jelas berbeda-beda dalam menghadapi tantangan hidupnya. Pengalaman yang dilalui, luka, derita dan bahagia adalah rumput liar yang selalu tumbuh.
Pasar utama selalu ramai, segala macam bahan makanan dari hasil laut sampai pertanian dan segala macam kebutuhan hidup dijual. Aku sangat suka berada di pasar, melihat aktifitas jual-beli. Orang-orang lalu-lalang saling berjuang mempertahankan hidupnya. Teriakan-teriakan para penjual seakan menjadi paduan suara sehari-hari. Lelaki dan perempuan saling menawarkan dagangan.
“Langgora dua puluh ribu” “Bobara empat pulh ribu” “Udangnyaaaa tiga puluh”
“Cari apaaaaaa….sayurnyaaaaa. Buaaaahhhhhh……pisannyaaaaaaa”
“Ayoooo baruu bongkaaaarrrrr……dicakaaaaarrrr dua puluh ribuuuuuuu”
Sementara para pembeli melihat-lihat mencari-cari barang yang mereka butuhkan. Begitulah pasar bekerja. Soal pengaturan komoditas dan harganya, itu lain soal. Tentu kalian paham bagaimana negeri ini bekerja ?
Dari pasar itulah kebutuhan keluargaku dicukupi. Tetapi sebagai pendatang kehidupan kami tak semulus yang dibayangkan.Tak seperti angan-angan para perantau pemula yang bermimipi “Mudah mencari uang di pulau sana. Aku akan sukses dan kaya raya. Hahahahaha….”.
Begitulah mimpi bekerja, menjanjikan harapan ! Sementara orang tuaku sudah kenyang dengan ragam suka-duka sebagai perantauan. Mereka banyak menyimpan beban mental yang sesekali diceritakan kepadaku. Pernah diawal-awal mereka membuka toko sembako. Setiap malam ada saja dagangan mereka yang hilang, bukan sekadar dicuri tetapi digarong sampai berhamburan berantakan. Kejadian seperti itu sering terulang meskipun sudah dipasang gembok berlapis. Melapor ke polisi, tak ada hasilnya. Percuma menaruh harapan. Sementara toko-toko di debelahnya yang dimiliki orang local selalu aman. Mereka tak biasa berbuat apa-apa selain bersabar. Bukankah bumi ini dihamparkan untuk hidup semua manusia ? Asal tidak merusak dan menggangu satu sama lain. Bukankah hidup akan terasa indah dan damai kalau kita saling membantu dan menjaga ? Ohhhhh, itu kalimat bijak yang basi di buku PPKN semasa sekolah dulu. Ini dunia nyata bung !!! Kehidupan nyata tak sebijak buku-buku yang kalian baca.
Kenapa sentimen kesukuan harus ada ?
“Kenapa sentimen kesukuan harus ada ?”
“Aku pribumi, kau pendatang”
“Aku asli, kau perantau”.
Bertahun-tahun orang tuaku hidup dan bertahan. Sampai perlahan-lahan kondisi membaik seiring kondisi keamanan negeri yang diperbaiki. Suku Karang juga mulai terbiasa dengan pendatang dari berbagai suku. Hubungan dagang ataupun sosial mulai terjalin harmonis. Semakin banyak perantau yang datang dan menetap. Aku mulai dewasa dan dikirim ke Pulau besar untuk menuntut ilmu. Disana aku melihat dan belajar bagaimana dunia yang lain dari tempat tinggalku bekerja. Banyak sekali pemuda berbagai macam suku dari segala penjuru negeri hidup disana. Mereka bebas dan aman belajar. Orang-orang lokal pun baik pada mereka. Sampai satu-persatu menyelesaikan pendidikannya dan pulang kembali ke asal berbakti pada tanah kelahirannya. Ada pula yang betah tak mau pulang. Dan ada juga yang memanfaatkan kepandaiaannya untuk kepentingan pribadi. Mereka masuk ke dalam partai-partai politik ataupun birokrasi negeri ini, disana adalah ladang basah untuk mendapat uang. Maklum, di Pulau Karang sangat kaya akan hasil tambang dan banyak perusahaan dari luar yang masuk untuk mengeruk sumberdayanya. Tanpa memikirkan efek samping jangka panjangnya. Sementara saat ini saja sudah banyak nelayan yang mengeluh hasil laut menurun karena laut mula tercemari aliran lumpur-lumpur dari galian tambang. Ohhh,,,siapa peduli tentang kelestarian alam ? Asal kantong semakin tebal, ijin tambang mudah saja dikeluarkan oleh pemerintah negeri ini kan ?
Tetapi keharmonisan itu tak bertahan lama, negeri ini chaos dan krisis ekonomi melanda. Semua orang berkeluh kesah susahnya mencari uang. Ribut-ribut pribumi dan pendatang kembali muncul ke permukaan. Disaat yang bersamaan kerajaan di Pulau Karang ini kembali diaktifkan. Pulau ini memang mempunyai sejarah yang sangat panjang tentang kerajaannya yang masyur. Tetapi sayang, seringkali kita tenggelam pada kejayaan masalalu dan lupa cara menghadapi masakini. Kerajaan yang kembali aktif itu malah menjadi rebutan, terjadi dualisme kepemimpinan. Niat awal untuk memperbaiki keadaan, malah terjadi perebutan kekuasaan. Begitulah memang kekuasaan, akan selalu menggoda orang-orang yang tak kuat iman. Bagaimana para raja yang seharusnya memberi contoh hidup bijaksana kepada rakyatnya, ini malah berebut tahta. Cuiiiihhhhh….memalukan !!!! Hal itu juga akhirnya membuat chaos tersendiri antar sesama. Orang-orang mulai berbisik-bisik siapa raja yang asli ??Siapaaa?? Bentrok antar kelompok juga tak bisa terhindarkan. Itu membuat suasana kota menjadi tidak aman.
Sampai suatu hal buruk menimpa keluargaku. Rumah yang dibangun keluargaku di atas tanah yang mereka beli secara resmi, kini diakui dan akan diambil alih oleh oknum Suku Karang yang juga memiliki sertifikat tanah yang sama. Mereka berdalih itu tanah orang tua atau moyang mereka. Setelah melewati proses hukum di pengadilan yang panjang dan menghabiskan banyak uang pun waktu dan pikiran yang terkuras. Akhirnya orangtuaku kalah dan terusir dari rumahnya. Mereka harus kembali memulai hidupnya lagi sebagai perantau yang tak punya rumah. Hukum di negeri ini begitu rumit untuk dipahami dan dimengerti oleh orang awam seperti kami. Dan ternyata bukan hanya keluargaku yang mengalami hal ini, ada juga pihak-pihak lain yang merasakan hal serupa. Semakin banyak kasus penerobotan tanah di Pulau Karang. Semua bisa diakali oleh orang-orang serakah yang bekerja sama dengan oknum pemerintah bejat. Bagaimana rasanya terusir dari rumah yang kau bangun dengan tetes keringatmu sendiri ?? Sangat menyesakkan, saat kejadian itu tangis ibuku tak reda-reda. Sementara ayahku adalah lelaki Suku Gunung yang yang suka memendam deritanya. Sedangkan logikaku tak habis berpikir, kenapa mereka masih bertahan di pulau ini ? Kita tak pernah bisa membaca isi hati terdalam manusia, bahkan orangtua kita sendiri. Kami menyaksikan rumah kami perlahan dihancurkan dengan bulldozer, sampai rata dengan tanah. Kami melihat wajah-wajah tanpa empati memagari proses penghancuran itu. Sekali lagi , siapa yang bisa membaca isi hati manusia ?? Bisa-bisanya mereka bekerja menghancurkan manusia lainnya. Kali ini terjadi di keluargaku, mungkin esok atau lusa hal itu bisa terjadi di keluargamu. Tak peduli kau pendatang atau pribumi. Orang-orang serakah itu, mafia tanah itu hanya berpikir soal uang. Mereka akan menghalalkan segala cara untuk merampas hakmu. Siapa yang bisa membaca hati manusia ????? Apakah kau bisa ????
Dimanakah hati ?
Apakah terbungkus ambisi ?
Dimanakah empati ?
Apakah sudah mati ?
Kesedihan kami tak terhenti disitu. Di tengah proses pengadilan sengketa tanah yang rumit itu, kami mendapat bencana yang begitu menyiksa. Adik perempuanku yang masih belia 15 tahun, diperkosa oleh sepuluh pemuda bejat di pulau ini.
“Bajingaaaaaaannnnnnnnn………………. !!!!!!”
Apa kau bisa membayangkannya ?? Bagaimana traumatik yang dialami adikku ?? Sampai akhirnya dia gantung diri di kamarnya. Dan meninggalkan sepucuk surat bahwa dia merasa dirinya sudah tak layak hidup, merasa kotor. Bagaimana di negeri ini selalu melihat korban pemerkosaan dihinakan, dianggap tidak suci lagi. Gadis semuda itu harus menannggung derita sampai tak kuat lagi. Bagaimana kesedihan yang ditanggung ibuku ? Apa yang ada di pikiran para pemuda bejat itu ? Aku meratapi diriku, sebagai kakak yang tak berguna. Tak bisa menjaga adiknya. Tak berani membalaskan dendam untuknya. Kakak macam apa aku ini ????? Harusnya kubunuh mereka semua !!!! Persetan dengan penjara !!!! Bajingaaaaaaaannnnnnn…..!!!!!!!! Hidup di kota macam apa keluargaku ini ??? Masih bisakah kita menganggap kota ini normal ???? Tiidaaaaaakkkkkk!!!!!! Sepuluh pemuda memperkosa seorang gadis. Neraka jahanaaaammmm!!!!!! Aku muak dengan kota ini, aku muaaakkkkk!!!!!! Kota yang tak bisa memberikan rasa aman pada masyarakatnya. Apa guna kantor dan aparat-aparat keamanan itu dengan slogan-slogan tipuan menayomi masyarakat ?? Bangsaaaattttt!!!!!! Kondisi keluargaku tambah terpuruk, kami hanya bisa berharap mereka dihukum seberat-beratnya. Dikebiri kelaminnya, biar mereka merasakan bagaimana tersiksa !!!!
*Blackout
2
Sementara aku,
Masa remajaku terombang-ambing dalam pencarian identitas diri. Siapakah aku ini ? Ayahku Suku Gunung, Ibuku Suku Laut. Mereka tinggal dan melahirkanku di Pulau Karang yang dihuni mayoritas Suku Karang. Teman-temanku sering meledekku, bahwa aku bukan bagian dari mereka Suku Karang. Ketika aku menuntut ilmu di Pulau Besar, aku sering ditanya dari mana asalku ? Aku jawab Pulau Karang, tapi aku tidak bisa bahasa daerah asli Suku Karang. Aku kembali menjdai bahan candaan karena itu. Ayahku ingin aku menjadi Suku Gunung sepertinya. Ibuku ingin aku mewarisi budayanya sebagai Suku Laut. Aku semakin kebingungan. Sampai suatu waktu aku memca sebuah buku.
“Anakmu bukanlah milikmu, mereka adalah putra putri sang hidup yang rimdu akan dirinya sendiri”
Sajak indah dari seorang penyair Lebanon bernama Kahlil Gibran. Dia berasal dari negeri nan jauh sana. Bukan Gibran anak raja negeri ini, bukan !
Semenjak itu aku mulai berani berpikir ktitis, bahkan terkadang menentang orangtuaku. Aku ingin mencari jalan hiduoku sendiri. Aku mulai jarang membantu pekerjaan orangtuaku di pasar. Aku bukan ingin menjadi durhaka seperti Malin Kundang, bukan. Tolong jangan kutuk aku ibu. Bagaimanapun aku tetap mencintai kedua orangtuaku. Terlepas dari dualisme identitas yang mereka wariskan padaku. Aku hanya ingin memilih jalanku, mencari peta hidupku.
Ahu paling suka berlama-lama di pelabuhan. Menikmati segelas kopi dari warung langgananku. Penjualnya seorang bapak tua Suku Karang dengan raut muka seperti memendam banyak pikiran. Kerutan-kerutan di wajahnya mungkin adalah bait-bait hidup yang tak mudah dieja. Dari warung kpi itulah aku suka mengamati kapal-kapal yang bersandar. Menaik-turunkan penumpang dengan banyak barang bawaan. Raut-raut wajah bahagia, lelah, sedih, perpisahan, pertemuan kembali dengan keluarga. Segala macam bentuk perasaan menyatu di pelabuhan. Para pedagang asongan dan kuli angkut saling berlarian berebut masuk kapal mengejar rezekinya.
Apa yang membuat orang-orang ini rela menempuh perjalanan panjang mengarungi lautan ?
Apa yang ada dalam pikiran mereka ? Mencari harapan hidup baru yang lebih baik ? Mencari harta kekayaan ? Kerinduan keluarga ? Apakah melarikan diri dari hidupnya lama ? Dorongan kuat apa yang akhirnya menggerakkan mereka ? Ataukah perjalanan memang sudah menjadi naluri purba manusia ?
Sampai suatu ketika ada sebuah kapal kayu kecil yang bersandar. Hanya ada tiga penumpang turun. Salah satunya seorang kakek dengan rambut gembel memutih. Mataku terus memperhatikan mereka. Diam-diam aku mengikuti mereka. Mereka berbelanja sembako di pasar dekat pelabuhan. Ketika mereka sudah kembali ke kapal dan mulai memuat barang belanjaannya. Aku memberanikan diri mendekat dan bertanya ke kakek yang sedang duduk.
“Kapal ini dari mana dan mau kemana Kek ?”
“Kami dari Pulau Biru dan akan kembali kesana.”
Rasa penasaran membuatku terus bertanya dan kakek itu menjelaskan padaku dengan tenang.
Pulau Biru adalah sebuah pulau kecil di utara sana. Tidak banyak penghuninya. Orang-orang terbuang katanya. Orang-orang yang tersingkirkan dari suku asli mereka. Sampai akhirnya mereka menghuni pulau itu bersama dan meninggalkan identitas kesukuan mereka. Perasaan senasib membuat mereka menjalin persaudaraan lebih erat katanya. Mereka menyebut diri sebagai Makhluk Bumi, bukan suku apa-apa. Kami hidup damai disana.
Pertemuan itu membuatku terus penasaran dan bertanya-tanya. Dimanakah Pulau Biru itu ? Setiap hari aku berpikir tentang pulau itu. Di Pulau Karang setiap orang yang aku temui dan kutanya tidak ada yang bisa menjawab dengan jelas. Rata-rata hanya berkata bahwa pulau itu hanya mitos belaka, pulau orang-orang terbuang. Bahkan rangtuaku sendiri juga berkata seperti itu. Mereka mulai menganggapku gila karena terus bertanya. Sampai ayahku sempat meminta tolong seorang imam untuk mendoakannku. Aku tidak gila, aku waras. Seratus persen akal sehatku waras, aku yakin ada pulau yang damai itu.
Pulau biru dimanakah keberadaanmu ? Apa benar kau pulau orang-orang terbuang ? Atau mungkin kau pulau orang-orang kalah ? Yang tersingkir dari tanah asal ? Aku semakin penasaran. Persetan identitas kesukuanku. Aku mulai muak di Pulau Karang ini. Aku ingin melepaskan identitasku. Aku bukan Suku Gunung, bukan juga Suku Laut, apalagi Suku Karang. Aku muak selalu ditanya keaslianku. Jelas-jelas aku asli manusia bumi. Tak perlu ijazah atau sertifikasi resmi. Aku asli makhluk bumi yang merdeka.
Adakah pulau yang damai ?
Hidup penuh cinta dan kasih
Ohhh, Pulau Biru
Aku mengkhayalkanmu
Pulau indah yang damai itu
Tanpa kebencian, hanya cinta bermekaran
Orang-rang bernyanyi
Bergandeng tangan menari bersama
Kami makhluk bumi
Kami makhluk bumi
Hidup di pulau yang damai ini
Waktu-waktu berlalu, masa-masa sulit kelargaku terlewati. Tapi, mafia tanah masih tetap menyerobot tanah di Pulau Karang ini. Pemerintah negeri mulai ikut-ikutan merampas tanah rakyatnya untuk kepentingan proyek-proyek besarnya. Pemerkosa adikku tak dihukum lama. Bahkan muncul pemerkosa-pemerkosa baru. Ada ayah memperkosa anaknya. Menantu memperkosa mertuanya. Guru memperkosa muridnya. Ustadz mencabuli santrinya. Bla…bla…bla…..blaaaaaa……!!!!
Setelah sekian purnama aku menghabiskan waktuku di pelabuhan untuk terus memantau kapal kayu itu. Persetan orang menganggapku gila. Impian dan harapan tentang pulau yang damai itu tetap kujaga. Akhirnya di suatu hari, kapal kayu itu kembali terlihat bersandar. Aku memohon untuk ikut mereka dan diijinkan. Laluuuuu….., tibalah aku di Pulau Biru ini setelah semalaman mengarungi lautan. Dan seperti apa yang aku bayangkan. Pulau indah, laut biru, pasir putih, ikan-ikan terlihat jelas di bawah dermaga kayu. Perbukitan, ladang-ladang sayur, rumah-rumah panggung, orang-orang yang baik dan murah senyum.
Tapi, kakek itu sebagai tetua di Pulau Biru melarangku untuk terlalu banyak bercerita ke orang di luar Pulau biru, karena akan berbahaya. Kita harus menjaga pulau ini, katanya. Salah satu caranya dengan terus menjawab bahwa Pulau Biru hanyalah mitos belaka jika ada yang bertanya. Kecuali si kakek sendiri yang menceritakannya. Karena pengalaman hidup dan dan kebersihan hatinya ia bisa membaca niat orang-orang yang ditemuinya. Mereka juga memagari Pulau Biru dengan pagar tak terlihat, yaa maklum penghuni pulau ini adalah gabungan orang-orang dari beberapa suku yang terpinggirkan. Mereka mempunyai lelaku hidup yang dekat dengan alam dan masih mempercayai ritual-ritual kuno. Tetapi, ada satu rahasia yang akan aku bocorkan pada kalian. Di Pulau Biru ini mereka mempunyai tanaman yang mampu membuat mereka selalu sehat dan bahagia.
Ohh…Pulau Biru
Persetan dengan identitasku, enyahlah kau kegetiran dan kesedihan.
Jauhkanku dari kebencian dan amarah perang
Ijinkanku tinggal seumur hiduplu dalam kedamaian pulaumu
Mari bernyanyi dan menari bersamaku
Ciptakan Pulau Biru di hidupmu…..
(Ajak penonton berdiri dan bernyanyi)
Ohhh…Pulau Biru
Aku mengkhayalkanmu
Pulau indah yang damai itu
Tanpa kebencian, hanya cinta bermekaran
Orang-orang benyanyi
Bergandeng tangan menari bersama
Kami makhluk bumi
Kami makhluk bumi
Hidup di pulau yang damai ini
(Mei-juni 2025) Sidiq Bachtiar
Sidiq Bachtiar
Pulau Biru
2025